News  

Jalan Paitana–Sungguareng–Bulloe Dikeruk, Overlay Tak Kunjung Dilakukan, Warga Jeneponto Soroti Keselamatan Pengguna Jalan

JENEPONTO — Proyek rekonstruksi infrastruktur jalan pada koridor vital yang menghubungkan Paitana–Sungguareng hingga Bulloe, Desa Bontomatene, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, kini menuai sorotan. Proyek yang semestinya meningkatkan konektivitas dan keselamatan masyarakat justru dinilai menghadirkan risiko baru bagi pengguna jalan.

Sorotan muncul setelah proses scraping atau pengerukan lapisan aspal lama dilakukan, namun tahap pelapisan ulang atau overlay belum kunjung diselesaikan secara menyeluruh. Kondisi permukaan jalan yang kasar, terdapat perbedaan elevasi, serta debu yang berpotensi membuat kendaraan kehilangan kendali dinilai membahayakan, terutama bagi pengendara roda dua.

Kondisi tersebut semakin menjadi perhatian setelah kembali terjadi kecelakaan lalu lintas pada Kamis malam. Seorang pengendara sepeda motor dilaporkan mengalami hilang kendali saat melintasi bagian jalan yang mengalami perubahan kontur dan kemudian harus mendapatkan penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Warga setempat menyebut kecelakaan di kawasan tersebut bukan lagi persoalan yang bisa dianggap sepele. Kondisi jalan pasca-pengerukan, ditambah minimnya visibilitas pada malam hari, dinilai meningkatkan potensi kecelakaan bagi pengendara yang tidak mengetahui perubahan kontur jalan.

Manajemen Risiko Proyek Dipertanyakan

Pekerjaan konstruksi jalan pada dasarnya tidak hanya dituntut menghasilkan kualitas fisik yang baik, tetapi juga wajib memperhatikan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) konstruksi serta keselamatan masyarakat yang tetap menggunakan akses jalan selama pekerjaan berlangsung.

Karena itu, jeda antara pengerukan dan pelaksanaan overlay menjadi perhatian. Apabila suatu tahapan pekerjaan belum dapat segera dilanjutkan, pengguna jalan semestinya tetap memperoleh perlindungan melalui pengaturan lalu lintas, rambu peringatan, penerangan yang memadai, serta pengamanan terhadap perubahan elevasi permukaan jalan.

Pertanyaan pun muncul: apakah asesmen risiko terhadap kondisi jalan setelah proses scraping telah dilakukan secara optimal?

Jika risiko telah teridentifikasi, maka langkah mitigasi seharusnya diterapkan untuk mencegah kecelakaan dan meminimalkan dampak terhadap masyarakat.

Pemkab Jeneponto dan Dinas Teknis Diminta Turun Tangan

Masyarakat dan pengguna jalan meminta Pemerintah Kabupaten Jeneponto, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), serta pihak terkait di tingkat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk tidak membiarkan persoalan keselamatan ini berlarut-larut.

Kontraktor pelaksana didesak segera menyelesaikan pekerjaan pelapisan ulang sesuai spesifikasi dan tahapan kontrak. Jika terdapat kendala administratif maupun teknis, masyarakat meminta agar persoalan tersebut tidak sampai mengorbankan keselamatan pengguna jalan.

Selain percepatan pekerjaan, evaluasi terhadap kinerja kontraktor juga dinilai penting. Pemerintah dan instansi teknis perlu memastikan apakah pelaksanaan proyek telah sesuai dengan kontrak, metode kerja, standar keselamatan, serta ketentuan teknis yang berlaku.

Apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya kelalaian teknis atau pelanggaran terhadap kewajiban keselamatan, maka pihak yang bertanggung jawab harus diminta memberikan penjelasan dan melakukan langkah perbaikan secara cepat dan terukur.

Pembangunan Jangan Mengorbankan Keselamatan

Pembangunan infrastruktur merupakan kebutuhan masyarakat. Namun, keberhasilan sebuah proyek tidak semata-mata diukur dari terselesaikannya pekerjaan fisik, melainkan juga dari bagaimana proyek tersebut dilaksanakan dengan memperhatikan keselamatan publik.

Jalan yang sedang dibangun tetap menjadi ruang publik yang digunakan masyarakat setiap hari. Karena itu, aspek keselamatan tidak boleh ditempatkan sebagai urusan tambahan atau menunggu pekerjaan selesai.

Masyarakat berharap pemerintah dan kontraktor menunjukkan sikap responsif, transparan, dan akuntabel terhadap kondisi tersebut. Jangan sampai proyek yang bertujuan meningkatkan kualitas infrastruktur justru menimbulkan risiko kecelakaan bagi masyarakat.

“Pembangunan infrastruktur tidak boleh mengorbankan keselamatan jiwa demi efisiensi operasional semata.”

Sorotan ini menjadi momentum bagi seluruh pihak untuk melakukan evaluasi menyeluruh, mempercepat penyelesaian pekerjaan, dan memastikan koridor Paitana–Sungguareng–Bulloe kembali aman dilalui masyarakat.

Fath Guss Mahfuji

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *