MINAHASA UTARA — Penguatan sektor pertanian di Sulawesi Utara tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Di tengah tuntutan pasar yang semakin kompetitif, petani dan pelaku usaha pertanian perlu didorong untuk mampu mengelola hasil produksi dari hulu hingga hilir sehingga memiliki nilai tambah dan daya saing.
Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pelaku Rantai Nilai Program I-Care Sulawesi Utara yang digelar di Gedung Casa Benedita, Desa Tatelu, Kecamatan Dimembe, Kabupaten Minahasa Utara, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat pemahaman para pelaku pertanian mengenai pentingnya pengelolaan rantai nilai. Bukan sekadar menghasilkan produk pertanian, tetapi bagaimana hasil bumi dapat dikembangkan menjadi komoditas bernilai ekonomi lebih tinggi.

Dalam kegiatan tersebut hadir Direktur Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Utara, Dr. Stevi Karow, bersama jajaran pengurus LIN Sulut. Turut hadir Sekretaris DPD LIN Sulut, Jannete Carolin Taliwongso, bagian UMKM Noviane Kamuh, bagian Investigasi LIN Minut Willy Sumolang dan Denny Kumayas, serta Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Indonesia (KTNA) Sulut, Arly Henry Dondokambey.
Dari Produksi Menuju Nilai Tambah
Salah satu poin penting yang menjadi perhatian dalam Bimtek adalah bagaimana membangun manajemen rantai nilai pertanian secara efektif. Konsep tersebut menempatkan sektor pertanian sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung, mulai dari penyediaan bahan baku, budidaya, pengolahan, pengemasan, distribusi hingga produk diterima konsumen.
Jika setiap tahapan dikelola dengan baik, hasil pertanian tidak berhenti sebagai bahan mentah. Produk dapat diolah, dikemas dan dipasarkan dengan strategi yang lebih modern sehingga memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani.

Pandangan ini menjadi penting karena tantangan pertanian saat ini bukan hanya soal bagaimana meningkatkan hasil panen, tetapi juga bagaimana memastikan produk tersebut memiliki pasar dan mampu bersaing.
Petani tidak lagi semata-mata dipandang sebagai produsen bahan mentah. Mereka merupakan bagian dari rantai bisnis yang memiliki posisi strategis dalam menciptakan produk pertanian bernilai ekonomi tinggi.
Teknologi dan Inovasi Jadi Kunci
Pertanian modern membutuhkan perubahan pola pikir dan pola kerja. Teknologi, inovasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, akses terhadap pasar serta kolaborasi antarpelaku menjadi bagian penting dalam membangun sistem pertanian yang berkelanjutan.
Sulawesi Utara memiliki potensi pertanian yang besar. Namun, potensi tersebut akan lebih maksimal apabila didukung sistem pengelolaan yang mampu menghubungkan petani dengan pengolahan, distribusi dan pasar.
Karena itu, pendekatan rantai nilai menjadi salah satu langkah strategis. Hasil pertanian dari lahan tidak harus berhenti ketika panen selesai. Dengan inovasi dan pengolahan yang tepat, komoditas tersebut dapat berkembang menjadi produk turunan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Di sinilah program I-Care diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan pelatihan, tetapi dapat menjadi ruang untuk melahirkan gagasan dan inovasi baru yang benar-benar dapat diterapkan di lapangan.
LIN Dorong Kolaborasi Pertanian Sulut
Keterlibatan LIN Minahasa Utara dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan pertanian membutuhkan dukungan dari berbagai unsur. Pemerintah, organisasi masyarakat, kelompok tani, pelaku UMKM, dunia usaha dan masyarakat perlu membangun kolaborasi agar potensi pertanian daerah dapat berkembang secara optimal.

LIN Minahasa Utara juga melihat penguatan sektor pertanian sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Dengan sistem pertanian yang semakin modern, produktif dan terintegrasi, petani diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan kesejahteraan.
Pada akhirnya, pertanian Sulawesi Utara membutuhkan lebih dari sekadar program. Yang dibutuhkan adalah kesinambungan, inovasi dan keberanian untuk mengubah cara pandang terhadap hasil bumi.
Program I-Care dapat menjadi salah satu momentum untuk mendorong perubahan tersebut. Dari lahan pertanian menuju produk bernilai tambah, dari petani sebagai produsen bahan mentah menjadi pelaku agribisnis, serta dari potensi daerah menjadi kekuatan ekonomi yang mampu bersaing.
Dengan kolaborasi yang kuat dan penerapan teknologi yang tepat, pertanian Sulawesi Utara diharapkan semakin maju, mandiri, modern dan berdaya saing, sekaligus memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku usaha di daerah.
- Acel Disebut Tak Takut Dirkrimsus hingga Presiden, Dugaan Permainan Solar di Minahasa Kian Disorot.
- Diduga Diblokir Tanpa Pemberitahuan, Nasabah BRI Unit Wonorejo Masamba Keluhkan Akses Rekening: LIN Sulsel Desak Klarifikasi
- BPK Temukan Persoalan Pengelolaan Bansos PAITUA di Papua Barat Daya, LIN Desak Pengembalian Uang Negara


Response (1)