SULAWESI UTARA, MINAHASA TENGGARA | 1 APRIL 2026 Nama Kiki Mewo alias Kiki kini menjadi sorotan utama dalam polemik aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang diduga masih beroperasi di kawasan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri Botanical Garden.
Meski sebelumnya pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum telah menyatakan penutupan lokasi tersebut pada November 2025, fakta di lapangan justru menunjukkan hal yang bertolak belakang. Aktivitas tambang ilegal diduga masih terus berjalan—dan yang paling mencengangkan, kegiatan itu disebut dilakukan oleh Kiki Mewo alias Kiki, tepat di belakang papan larangan resmi.
Situasi ini dinilai sebagai bentuk pembangkangan terbuka terhadap hukum, sekaligus menimbulkan pertanyaan serius: siapa yang melindungi?
Diduga Beroperasi di Balik Larangan Resmi
Berdasarkan informasi yang beredar, aktivitas PETI yang dikaitkan dengan Kiki Mewo alias Kiki berlangsung tanpa hambatan berarti. Padahal, papan larangan telah dipasang sebagai tanda resmi penutupan kawasan.
Kondisi ini memicu kemarahan publik, karena hukum terlihat seolah tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Wilson Lalengke Murka: “Ini Bukan Kelalaian, Ini Pembiaran!”
Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia, Wilson Lalengke, secara tegas mengecam situasi tersebut. Ia menilai adanya indikasi kuat pembiaran sistematis terhadap aktivitas ilegal yang berlangsung.
“Kalau aktivitas ilegal seperti ini tetap berjalan, bahkan diduga dilakukan oleh pihak tertentu seperti Kiki Mewo alias Kiki di belakang papan larangan, itu bukan lagi kelalaian—itu pembiaran yang sangat memalukan!” tegasnya.
Wilson juga menyinggung insiden berdarah pada Desember 2025 yang terjadi di lokasi yang sama, meskipun kawasan tersebut telah dinyatakan ditutup.
“Ini bukti nyata aktivitas itu tidak pernah benar-benar berhenti. Ada yang bermain di balik ini!” tambahnya.
Desakan Tegas: Copot Aparat yang Gagal
Atas situasi tersebut, Wilson Lalengke mendesak tindakan tegas dari pimpinan kepolisian di Sulawesi Utara.
“Copot Kapolsek, Kasat Reskrim, Kapolres Minahasa Tenggara hingga Dirkrimsus Polda Sulut! Jika Kiki Mewo alias Kiki bisa beroperasi bebas, maka ada kegagalan serius dalam penegakan hukum,” ujarnya.
Hendra Tololiu Ingatkan Ultimatum Presiden
Ketua LIDIK KRIMSUS RI Sulawesi Utara, Hendra Tololiu, turut angkat bicara dan mengingatkan ultimatum Presiden Prabowo Subianto terkait tambang ilegal.
“Presiden sudah tegas—tidak boleh ada aparat yang terlibat atau membiarkan tambang ilegal. Jika Kiki Mewo alias Kiki benar beroperasi bebas, maka ini harus diusut tuntas sampai ke akar-akarnya,” ujarnya.
Publik Menunggu: Apakah Hukum Akan Bertindak?
Kasus ini kini menjadi ujian besar bagi penegakan hukum di Sulawesi Utara. Nama Kiki Mewo alias Kiki yang terus disebut dalam dugaan aktivitas PETI menambah tekanan publik terhadap aparat penegak hukum.
Ketika larangan hanya menjadi simbol, dan aktivitas ilegal tetap berjalan, kepercayaan masyarakat dipertaruhkan.
Publik kini menunggu—apakah hukum akan benar-benar ditegakkan, atau justru kembali tunduk pada praktik pembiaran?
(Tim Redaksi)
